Minggu, 30 Oktober 2011

SAMPALA OUR JOURNEY IS NEVER ENDING






Selalu ada yang menarik ketika membincangkan SAMPALA. Organisasi ekstrakurikuler di SMAN 2 Mataram ini tak sekedar mengolah cita dan cinta, tapi rasa akan keharmonisan; harmoni alam dan pikiran. Itulah setidaknya yang saya rasakan selama menjadi pengurus SAMPALA, dan pasti begitu pula yang dirasa oleh rekan seangkatan maupun sebelum dan sesudah masa bakti saya sebagai ketua SAMPALA tahun 2000-2001.

Empat hal itulah yang ingin saya urai sebagai kado syukur atas konsistensi pengurus SAMPALA di masa-masa yang akan datang. Pertama, cita. Harapan selalu ada setelah bergumul bersama rekan-rekan pecinta alam. Asa selalu tumbuh bersemi seperti pohon ketapang yang tumbuh besar dan rindang di halaman SMAN 2 Mataram kala itu. Dan ketapang itu kini hanya sejarah yang tak terlupakan. Cita, asa, dan harapan seakan berlari kencang bak angin yang berhembus segar menerpa tubuh SAMPALA. Asa itu tak pernah tergerus zaman, tak lekang oleh waktu yang terus berputar. Adalah alam tetap lestari; sungai terus mengalir jernih, hutan pun hijau berseri.

Hanya itu? Tidak. Asa itu menggenapi jiwa-jiwa setiap anggota SAMPALA. Riuh, bahkan sesekali bergemuruh. Diskusi panjang, debat yang tak berujung, tapi tetap dengan aksi yang sama, langkah yang seiring. Buktinya apa? Adanya konsistensi. SAMPALA berada di tahun ke dua puluh empat, bukan waktu yang singkat. Ini usia dewasa. Sedang masa-masanya bergelora. Pertengkaran bukan hal asing, perdebatan bukan sesuatu yang baru. Semua berjalan dengan ritme yang menarik. Itu sebabnya konsistensi terjaga hingga tahun ini.

Butuh waktu yang lama, memang. Tapi bukan sesuatu yang mustahil untuk mewujudkan itu semua. Berawal dari asa, harapan-harapan baru bermekaran. Bahkan kekal bak kembang edelweiss. Konsistensi berorganisasi kekal hingga kini. Riak-riak berorganisasi bukan halangan untuk menggapai asa, bahkan gelombang besar pun bukan hantaman yang akan merobohkan konsistensi. Inilah idealita yang terbentuk oleh sejarah SAMPALA dan tetap menyejarah di tahun ke dua puluh empat tahun ini.

Asa itu berkembang. Tak pupus oleh waktu. Sejak founding father SAMPALA ‘mendidik’ melalui PDPA pertama tahun…., hingga kini , PDPA ke…. (titik titik tolong diisi atau yang di-bold dihapus sekalian). Semua terus berjalan tak henti. Selalu ada asa-asa baru yang terangkai dari tiap anggota baru, yang direkrut tiap tahunnya. Itulah keniscayaan.

Tentang asa ini, saya teringat sosok Soe Hok Gie. Semangat Gie yang ikut menghantarkannya pada kematian di puncak Mahameru. Saat itu, 16 Desember 1969, Gie bersama Mapala UI melakukan misi pendakian ke Gunung Mahameru (Semeru) yang mempunyai ketinggian 3.676m.

Gie berujar, “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.” – Catatan Seorang Demonstran (LP3ES : 1983). 

Gie sosok aktivis pecinta alam yang menggelorakan semangat-semangat perubahan. Dan itu pula yang ada di SAMPALA. Gie dan pengurus SAMPALA sebelum dan sesudah tahun kepengurusan ini memiliki semangat yang sama : asa menjaga alam tetap lestari.

Kedua, cinta. Inilah mata rantai yang tak terpisahkan setelah asa tersatukan. SAMPALA dapat tumbuh dan berkembang hingga usia dewasa seperti ini tentu karena ada cinta yang melingkari perjuangan setiap pengurusnya. Cinta itu tak hadir begitu saja. Datang tak diundang adalah mustahil. Ia harus dihadirkan. Caranya? Pertemuan yang konsisten dilakukan tiap pekannya. Atau sekedar menulis pesan di wall akun facebook antar pengurus, bahkan berbalas twit.

Urgensi cinta adalah kekuatan. Sir Edmund Hillary meraih titik tertinggi dunia (tahun 1953) pada ketinggian 8.848 meter (29,035 feet), adalah karena kecintaannya yang dalam untuk mendaki gunung. Dan cinta itu mengantarnya hingga puncak Everest.

Cinta adalah kekuatan. Menjadi hal yang aneh ketika berharap cinta datang tanpa ada usaha (asa) menghadirkannya. Dengan kekuatan George Mallory pun berusaha mencapai puncak Everest tanpa doping tabung oksigen pada tahun 1922, walau hanya pada ketinggian 27.000 feet. Artinya kadang kekuatan yang terbatas tak menghantarkan pada puncak harapan kita.

Dalam sebuah kepengurusan organisasi, semisal SAMPALA, pun harapan yang telah dirangkai rapi dalam musyawarah anggota seringkali tak sampai pada puncak harapan. Program-program yang ditata rapi tak sepenuhnya berjalan seperti rencana. Itu karena kekuatan yang berserak tak dapat disatukan oleh pucuk pimpinan. Dan tugas di akar rumput pula untuk menyatukan diri, tanpa menunggu komando ketua umum.

SAMPALA sejatinya satu tubuh. Ketika satu bagian tubuh merasa sakit, maka bagian lainnya juga akan merasa hal yang sama. Begitu pula, bagian tubuh satu sama lainnya saling mendukung dan memberi kekuatan. Bila persengketaan terjadi, maka bisa dipastikan tujuan yang direncanakan tak tercapai sesuai harapan.

Ketiga, saat cita dan cinta telah dikelola dengan baik, tentu ada hasil yang akan dicapai : harmoni alam atau kelestarian alam. “Salam lestari”, salam yang sering didengung-dengungkan tentu bukan sebatas sapaan lipsing antar aktivis pecinta alam saja. Ada semangat di dalamnya. Semangat untuk tetap menjadikan alam sebagai soko guru sepanjang masa.

Alam dijadikan titik acuan untuk mendekati yang menciptakan alam itu sendiri. Dan sebenarnya, tanpa pecinta alam pun, alam memiliki cara sendiri untuk melindungi dirinya, self protection. Saat hutan dibabat habis, longsor dan banjir menjadi kekuatan alam yang dahsyat untuk melawan perlakuan sewenang-wenang manusia. Dan kekuatan Tuhan di balik kekuatan alam tak ada yang bisa membendungnya.

Namun, di sinilah letak titik perjuangan pecinta alam dimulai. SAMPALA sebagai salah satu organisasi pecinta alam di Indonesia harus berusaha menjaga keharmonian alam, agar manusia-manusia tak berdosa tidak menjadi korban atas kekuatan alam. SAMPALA harus menjadi bagian pelindung alam dan kemanusiaan.

Untuk mencapai itu semua, tentu ada hal penting yang harus dimulai hari ini. Di usia ke dua puluh empat, di usia dewasa ini SAMPALA harus mampu menjaga harmoni pikiran, dan langkah ini harus menjadi salah satu kekuatan SAMPALA.

Pikiran menjadi bagian yang penting di SAMPALA karena tidak ada langkah-langkah kongkrit SAMPALA sebagai organisasi siswa pecinta alam dan bagian dari civitas SMAN 2 Mataram, bila tidak dimulai dengan pikiran yang lurus, benar, dan terencana. SAMPALA pun lahir pikiran jernih para pendirinya, pikiran untuk turut menjaga kelestarian alam.

Namun, bila tradisi berpikir jernih dinegasikan, maka tentu cita-cita murni pendiri dan pengurus SAMPALA hingga kini menjadi sesuatu yang mustahil. Karena dari pikiran yang jernih ini akan melahirkan cita, cinta, dan tujuan-tujuan akan kehormanian alam bumi, kelestarian alam.

Jika empat hal di atas tak dicermati, maka menjadi kekhawatiran gagalnya SAMPALA sebagai organisasi pecinta alam, SAMPALA hanya menjadi organisasi ceremonial, kekhawatiran yang menahun pula bila tak ada kontribusi positif antar pengurus di satu tahun dengan pengurus di tahun-tahun berikutnya, tak ada kontribusi positif antara alumni terhadap perkembangan SAMPALA kini dan nanti.

Selamat hari bangkit SAMPALA ke dua puluh empat. Semoga alam tetap lestari.

rusydi hikmawan -veran- ketum SAMPALA 2000-2001

13 komentar:

  1. sma tapi sdh begitu aktipnya dgn kegiatan alam,,kalo di kota sy paling adanya mapala,, mahasiswa pecinta alam,,, smoga makin sukses sj kegiatan2nya y sobat

    BalasHapus
  2. seru ya bisa jadi pecinta alam, sheno juga cinta sama alam tapi kalo naik gunung belum pernah :D sukses terus.

    BalasHapus
  3. terimakasi bang @al kahfi & bang @sheno monkey

    BalasHapus
  4. pecinta alam wajib tonton the amazing race tuh, acaranya para petualang :D

    BalasHapus
  5. oh pecinta alam toh....sip sip deh. selamat menjelajah ya.

    BalasHapus
  6. Selamat atas berdirinya SAMPALA, semoga dinamika dan aktivitas SAMPALA mampu menanggulangi kejahilan manusia yang buas - tak peduli pada kelestarian lingkungan hidup.
    By the way, follow #4 (CahNdeso);

    BalasHapus
  7. wah asik tuh pencinta alam. asikan kalo pencinta alam membuat bumi lebih hijau lagi yah

    BalasHapus
  8. ada mapala ada sampala, namanya kok gak jauh dati pala pala. tapi gak papa yang penting mencintai alam

    BalasHapus
  9. Mencintai alam adalah indikator kejernihan hati, siapa yang mau mencintai alam kebanyakan hidupnya berkelimpahan jauh dari beban dan kekhawatiran. karena mencintai alam mendekatkan diri pada Tuhan, alam itu sendiri yang bebas tana beban. terima kasih

    BalasHapus
  10. salam kenal dr mama..thanks sudi singgah ke entry mama..aktif dengan aktiviti tentang alam ya..bagus ya..

    BalasHapus
  11. Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal - hal yang Anda takuti.
    tetap semangat tinggi untuk jalani hari ini ya gan ! ditunggu kunjungannya :D

    BalasHapus
  12. ada foto angkatanku di sini trnyata hehehe ^_^ PDPA 23 Angkatan 24 tahun 2010 \m/ salam Lestari!!!

    BalasHapus